Jumat, 02 Januari 2015

Komunisme



Komunisme

Komunisme adalah sebuah ideologi. Penganut paham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manifesto politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848 teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam dunia politik. Komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap paham kapitalisme di awal abad ke-19, dalam suasana yang menganggap bahwa kaum buruh dan pekerja tani hanyalah bagian dari produksi dan yang lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, muncul beberapa faksi internal dalam komunisme antara penganut komunis teori dan komunis revolusioner yang masing-masing mempunyai teori dan cara perjuangan yang berbeda dalam pencapaian masyarakat sosialis untuk menuju dengan apa yang disebutnya sebagai masyarakat utopia.
Ide dasar
Istilah komunisme sering dicampuradukkan dengan komunis internasional. Komunisme atau Marxisme adalah ideologi dasar yang umumnya digunakan oleh partai komunis di seluruh dunia. sedangkan komunis internasional merupakan racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut "Marxisme-Leninisme".
Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari pengambil alihan alat-alat produksi melalui peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih dikenal dengan proletar (lihat: The Holy Family [1]), namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil dengan melalui perjuangan partai. Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro.
Teori marxis
Ø  Penafisran sejarah dari segi ekonomi
Sebelum marx, sejarah ditafsirkan dengan berbagai cara yang mempunyai kekhasannya masing-masing. Kelompok agama menafsirkan sejarah sebagai penyelenggaraan kehendeak Ilahi, dan menganggap perkembangan manusia hanya satu bagian dari rencana Allah untuk alam semesta. Kesulitan utama dari penafisiran sejarah seperti ini adalah bahwa kehendak Ilahi itu tidak diketahui dan manusia tidak dapat mengalaminya secara langsung, juga terdapat banyak konsepsi manusia yang berbeda tentang Tuhan serta rencana-rencananya untuk umat manusia.
Pendekatan kedua terhadap searah umat manusia, yang berpengaruh sebelum Marx, adalah bersifat politik. Pendekatan ini menganggap para kaisar, Raja pembuat undang-undang, para serdadu sebagai kekuatan yang menentukan dalam sejarah. Penulisan sejarah sebagian besar bersumber pada berbagai catatan tentang kerajaan monarkhi, parlemen, perang, dan perjanjian perdamaian. Penekanan segi politik ini cenderung melebih-lebihkan peranan relatif yang ditugaskan oleh kebanyakan orang kepada pemerintah dan politik dalam latar belakang yang menyeluruh dari kehidupan mereka. Sudah sewajarnya kalau para pemimpin dan filsuf politik memandang politik sebagai satu-satunya unsur yang terpenting dalam hubungan antarmanusia, dan penyelesaian politik sebagai jawaban yang paling tepat untuk berbagai persoalan kemanusiaan. Akan tetapi, sifat dan masalah manusia jauh lebih rumit dari ilmu politik.
Pendekaan penting yang ketiga adalah pendekatan yang menekankan peranan pahlawan (yang diperkenalkan oleh Carlyle). Kaitannya dengan pendekatan politik sangat erat, karena kebanyakan pahlawan secara konvensional dipilih dari pada kaisar, raja monarkhi, jenderal, penyusun undang-undang, pendiri negara baru, perintis pembaharuan, dan kaum revolusioner. Namun demikian pendekatan ini terlalu menitikberatkan peranan individu dengan mengabaikan kondisi sosial, budaya, religius, dan lingkungan ekonomi yang lebih luas membentuk suatu latar belakang. Latar belakang inilah yang menentukan mutu dan makna kepemimpinan seseorang. Tidak diragukan bahwa pemimpin yang membentuk peristiwa, tetapi tidak salah juga bahwa peristiwa yang membentuk seorang pemimpin.
Pendekatan pra-Marxis yang keempat untuk memahami sejarah menekankan dampak dari ide-ide, yang dianggap (oleh hegel misalnya) sebagai sebab utama untuk timbulnyanproses sejarah. Kondisi meterial (sosial, ekonomi, teknologi dan militer) masyarakat dianggap sesungguhnya berasal dari, dan disebabkan oleh, ide besar yang menggugah semangat. Penekanan pada ide ini sering juga mengandung pengertian bahwa sejarah berevolusi menuju terwujudnya ide pokok seperti kebebasan dan demokrasi. Meskipun tak dapat diragukan nahwa hal ini banyak mengandung kebenaran, namun penekanan secara eksklusif pada ide sebagai pen ggerak sejarah mengabaikan kenyataan bahwa ide tidak saja menimbulkan tapi juga mencerminkan adanya peristiwa tertentu. Karena itu, mengklaim ide sebagai satu-satunya pelaku utama yang menggerakkan perbuatan manusia berarti mengabaikan kondisi lingkungan. Pada akhirnya kondisi lingkungan juga yang menentukan kemungkinan ide tertentu dapat dilaksanakan atau tidak, dan kelanggengan serta dampak praktis dari ide tersebut ditentukan oleh kondisi lingkungan. Studi tentang sejarah juga dapat dipusatkan pada peperangan. Gejala konflik hadir dalam setiap tahap perkembangan manusia. Kemunculan, kejayaan, dan kejatuhan negara sering dikaitkan secara langsung dengan peperangan. Penafsiran sejarah dari sudut militer ini mempunyai kekurangan yang terletak pada kegagalannya untuk melihat sejarah sebagai dan bukannya sebagai sebab terjadinya peristiwa. Memang tak dapat diragukan bahwa perang sering menandai adanya titik balik dalam kehidupa bangsa dan peradaban, tetapi kecepatan berlalu dan sifat yang menentukan dari perang hendaknya tidak mengalihkan perhatian kita dari sejumlah besar faktor psikologis, ideologis, dan material yang menyebabkan timbulnya peperangan serta menciptakan kerumitannya.
Analisis Marx tentang masyarakat dinyatakan dalam penafsiran ekonominya sejarah. Produksi barang dan jasa-jasa yang menopang kehidupan manusia serta pertukaran barang dan jasa itu merupakan dasar dari segala proses dan lembaga sosial. Marx tidak mengklaim bahwa hanya faktor ekonomi yang menciptakan sejarah, tetapi menyatakan bahwa faktor ini yang terpenting sebagai dasar atau landasan untuk membangun suprastruktur kebudayaan, perundang-undangan, dan pemerintahan yang diperkuat pula oleh berbagai ideologi politik, sosial, keagamaan, kesustraan, serta seni yang sejalan.
Marx melukiskan hubungan antara kondisi material dari kehidupan masyarakat dengan idenya sebagai berikut: bukan kesadaran yang menentukan keberadaannya, tetapi sebaliknya keberadaan sosial manusia itulah yang menentukan kesadarannya. Dalam masyarakat nomaden, misalnya, kuda mungkin dianggap sebagai sarana utama untuk mendapatkan dan mengumpulkan kekayaan. Menurut pemikiran Marx, dasar kehidupan nomaden seperti ini membentuk suprastruktur undang-undang, pemerintahan, dan ide-ide yang berpengaruh dalam masyarakat itu. Jadi mereka yang memiliki kuda paling banyak akan menjadi pemimpin politik yang menciptakan dan menafsirkan undang-undang. Mungkin mereka juga akan mendapatkan penghormatan yang tertinggi dan pengutamaan dari suku-suku bangsa yang lain yang tidak mempunyai kuda. Pemikiran sosial budaya yang paling berpengaruh mencerminkan status ekonomi dari para pemilik kuda. Mereka juga membawa pengaruh dalam bidang agama. Tuhan mungkin digambarkan sebagai penunggang kuda yang perkasa dan tangkas, dan konsep keadilan serta kekuasaan Ilahi akan dibayangkan sebagai perluasan dari keadilan kemanusiaan seperti yang dicanangkan oleh para pemimpin pemilik kuda.
Dalam suatu masyarakat agraris yang telah menetap, pemilikan tanah akan menjadi kunci pembentukan lembaga-lembaga dan pemikiran politik, sosial, hukum, dan kebudayaan. Menurut Marx, dalam masyarakat seperti itu, kelas yang memiliki tanah menguasai negara dan masyarakat meskipun ada organisasi kekuasaan formal. Selain itu, kelas pemilik tanah juga akan menentukan ukuran dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Akhirnya, menurut Marx, dalam masyarakat industri modern duaratus tahun terakhir ini, pemilikan alat-alat produksi industri menjadi kunci utama. Kaum kapitalis tidak hanya menentukan tujuan ekonomi dari masyarakat tapi juga secara politik menguasainya (terlepas dari adanya kenyataan-kenyataan sebaliknya yang sah dan formal) serta menetapkan ukuran dan nilai-nilai sosial. Tujuan akhir dari perundang-undangan, pendidikan, pers, serta hasil karya seni dan sastra adalah untuk mempertahankan suatu ideologi yang diilhami kesakralan dan keadilan pemilikan harta kaum kapitalis.
Pemahaman kita tentang sejarah telah mendapatkan sumbangan yang luar biasa dari Marx melalui penafsiran ekonominya tentang sejarah. Seseungguhnya dewasa ini tidak mungkin menulis sejarah tanpa menghubungkan kekuatan dan konflik ekonomi dengan masalah politik, militer, serta masalah internasional. Dalam membentuk penekanan yang berlebihan dari Marx terhadap faktor ekonomi, kita tidak boleh mengarah kepada ekstrim yang lain yaitu dengan menyangkal berpengaruhnya kepentingan ekonomi dalam masalah kemanusiaan. Teori Marxis menurunkan derajat manusia sama seperti binatang buas yang tidak memiliki keluhuran dan sifat keilahian. Di pihak lain beberapa teori antiMarx telah meninggikan derajat manusia ke tingkat malaikat tanpa berpijak di bumi, yang hampir menyamai kebajikan Ilahi. Hanya saja manusia begitu sering cenderung memoles tindakan dan tujuannya yang egoistik dan materialis dengan ungkapan-ungkapan yang bernada religius dan moral.
Komunisme sebagai anti-kapitalisme menggunakan sistem partai komunis sebagai alat pengambil alihan kekuasaan dan sangat menentang kepemilikan akumulasi modal pada individu. pada prinsipnya semua adalah direpresentasikan sebagai milik rakyat dan oleh karena itu, seluruh alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat secara merata, Komunisme memperkenalkan penggunaan sistem demokrasi keterwakilan yang dilakukan oleh elit-elit partai komunis oleh karena itu sangat membatasi langsung demokrasi pada rakyat yang bukan merupakan anggota partai komunis karenanya dalam paham komunisme tidak dikenal hak perorangan sebagaimana terdapat pada paham liberalisme.
Secara umum komunisme berlandasan pada teori Materialisme Dialektika dan Materialisme Historis oleh karenanya tidak bersandarkan pada kepercayaan mitos, takhayul dan agama dengan demikian tidak ada pemberian doktrin pada rakyatnya, dengan prinsip bahwa "agama dianggap candu" yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari pemikiran ideologi lain karena dianggap tidak rasional serta keluar dari hal yang nyata (kebenaran materi).

Komunis Internasional

Komunis internasional sebagai teori ideologi mulai diterapkan setelah meletusnya Revolusi Bolshevik di Rusia tanggal 7 November 1917. Sejak saat itu komunisme diterapkan sebagai sebuah ideologi dan disebarluaskan ke negara lain. Pada tahun 2005 negara yang masih menganut paham komunis adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos. Komunis internasional adalah teori yang disebutkan oleh Karl Marx.

Maoisme

Ideologi komunisme di Tiongkok agak lain daripada dengan Marxisme-Leninisme yang diadopsi bekas Uni Soviet. Mao Zedong menyatukan berbagai filsafat kuno dari Tiongkok dengan Marxisme yang kemudian ia sebut sebagai Maoisme. Perbedaan mendasar dari komunisme Tiongkok dengan komunisme di negara lainnya adalah bahwa komunisme di Tiongkok lebih mementingkan peran petani daripada buruh. Ini disebabkan karena kondisi Tiongkok yang khusus di mana buruh dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari kapitalisme.

Indonesia dan komunisme

Indonesia pernah menjadi salah satu kekuatan besar komunisme dunia. Kelahiran PKI pada tahun 1920an adalah kelanjutan fase awal dominasi komunisme di negara tersebut, bahkan di Asia. Tokoh komunis nasional seperti Tan Malaka misalnya. Ia menjadi salah satu tokoh yang tak bisa dilupakan dalam perjuangan di berbagai negara seperti di Cina, Indonesia, Thailand, dan Filipina. Bukan seperti Vietnam yang mana perebutan kekuatan komunisme menjadi perang yang luar biasa. Di Indonesia perubuhan komunisme juga terjadi dengan insiden berdarah dan dilanjutkan dengan pembantaian yang banyak menimbulkan korban jiwa. Dan tidak berakhir disana, para tersangka pengikut komunisme juga diganjar eks-tapol oleh pemerintahan Orde Baru dan mendapatkan pembatasan dalam melakukan ikhtiar hidup mereka.

Sejarah Komunisme Di Indonesia

Era pra-Perang Kemerdekaan

Kelahiran Komunisme di Indonesia tak bisa dilepaskan dari hadirnya orang-orang buangan politik dari Belanda dan mahasiswa-mahasiswa lulusannya yang berpandangan kiri. Beberapa di antaranya Sneevliet, Bregsma, dan Tan Malaka yang masuk setelah Sarekat Islam (SI) Semarang sudah terbentuk.
Gerakan Komunis di Indonesia diawali di Surabaya, yakni di dalam diskusi intern para pekerja buruh kereta api Surabaya yang dikenal dengan nama VSTP. Awalnya VSTP hanya berisikan anggota orang Eropa dan Indo Eropa saja, namun setelah berkembangnya waktu, kaum pribumi juga banyak yang bergabung. Salah satu anggota yang menjadi besar adalah Semaoen kemudian menjadi ketua SI Semarang. Komunisme kemudian juga aktif di Semarang, atau sering disebut dengan "Kota Merah" setelah menjadi basis PKI di era tersebut. Hadirnya ISDV dan masuknya para pribumi berhaluan kiri ke dalam Sarekat Islam menjadikan komunis sebagai bagian cabangnya, yang nantinya disebut sebagai "SI Merah". ISDV sendiri sering menjadi salah satu organisasi yang bertanggung jawab atas banyaknya pemogokan buruh di Jawa.
Konflik antara SI Semarang (SI Merah) dengan SI pusat di Yogyakarta (SI Putih) mendorong diselenggarakannya kongres. Atas usulan Haji Agus Salim, yang disahkan oleh pusat SI, baik SI Merah maupun SI Putih menyepakati bahwa personel SI Merah keluar dari SI. Mantan personel SI Merah kemudian bersama ISDV berganti nama menjadi PKI.
Kehancuran PKI fase awal bermula dengan adanya Persetujuan Prambanan yang memutuskan akan ada pemberontakan besar-besaran di seluruh Hindia-Belanda. Tan Malaka yang tidak setuju karena Komunisme di Indonesia kurang kuat mencoba menghentikan, namun para tokoh PKI lainnya tidak menggubris usulan tersebut, kecuali mereka yang ada di pihak Tan Malaka. Pemberontakan terjadi pada tahun 1926-1927 yang berakhir dengan kekalahan PKI. Para tokoh PKI menyalahkan Tan Malaka atas kegagalan tersebut, karena telah mencoba menghentikan pemberontakan dan memengaruhi cabang-cabang PKI.

Era Perang Kemerdekaan

Gerakan PKI bangkit kembali pada masa Perang Kemerdekaan Indonesia, diawali oleh kedatangan Muso secara misterius dari Uni Soviet ke Negara Republik (Saat itu masih beribu kota di Yogyakarta). Sama seperti Soekarno dan tokoh pergerakan lain, Muso berpidato dengan lantang di Yogyakarta dengan pandangannya yang murni Komunisme. Di Yogyakarta, Muso juga mendidik calon-calon pemimpin PKI seperti D.N. Aidit. Muso dan pendukungnya kemudian menuju ke Madiun, di sana ia dikabarkan mendirikan Negara Indonesia sendiri yang berhalauan komunis. Gerakan ini didukung oleh salah satu menteri Soekarno, Amir Syarifuddin. Divisi Siliwangi akhirnya maju dan mengakhiri pemberontakan Muso ini.

Era pasca-Perang Kemerdekaan RI

Pasca Perang Kemerdekaan Indonesia tersebut, PKI menyusun kekuatannya kembali. Didukung oleh Soekarno yang ingin menyatukan semua aspek masyarakat Indonesia saat itu, di mana antar ideologi menjadi musuh masing-masing, PKI menjadi salah satu kekuatan baru dalam politik Indonesia. Ketegangan itu tidak hanya terjadi di tingkat atas saja, melainkan juga di tingkat bawah di mana tingkat ketegangan banyak terjadi antara tuan tanah dan para buruh tani. Soekarno sendiri yang cenderung ke kiri, lebih dekat kepada PKI. Terutama setelah Dekrit Presiden pada 5 Juli 1959, politik luar negeri Indonesia semakin condong ke Blok Timur (Blok Komunis Uni Soviet). Indonesia lebih banyak melakukan kerja sama dengan negara komunis seperti Uni Soviet, Kamboja, Vietnam, RRT, maupun Korea Utara. Beberapa langkah-langkah politik luar negeri yang dianggap kekiri-kirian itu antara lain:
  • Presiden Soekarno menyampaikan pandangan politik dunia yang berlawanan dengan barat, yaitu OLDEFO (Old Established Forces) dan NEFO (New Emerging Forces)
  • Indonesia membentuk Poros Jakarta-Peking dan Poros Jakarta-Phnompenh-Hanoi-Peking-Pyongyang yang membuat Indonesia terkesan ada di pihak Blok Timur
  • Konfrontasi dengan Malaysia yang berujung dengan keluarnya Indonesia dari PBB.
Di sisi lain, konflik dalam negeri semakin memanas dikarenakan krisis moneter, selain itu juga terdengar desas-desus bahwa PKI dan militer yang bermusuhan akan melakukan kudeta. Militer mencurigai PKI karena mengusulkan Angkatan Kelima (setelah AURI, ALRI, ADRI dan Kepolisian), sementara PKI mencurigai TNI hendak melakukan kudeta atas Presiden Soekarno yang sedang sakit, tepat saat ulang tahun TNI. Kecurigaan satu dengan yang lain tersebut kemudian dipercaya menjadi sebab insiden yang dikenal sebagai Gerakan 30 September, namun beberapa ilmuwan menduga, bahwa ini sebenarnya hanyalah konflik intern militer waktu itu. Pasca Gerakan 30 September, terjadi pengambinghitaman kepada orang-orang komunis oleh pemerintah Orde Baru. Terjadi "pembersihan" besar-besaran atas warga dan anggota keluarga yang dituduh komunis meskipun belum tentu kebenarannya. Diperkirakan antara limaratus ribu sampai duajuta jiwa meninggal di Jawa dan Bali setelah peristiwa Gerakan 30 September, para "tertuduh komunis" ini yang ditangkap kebanyakan dieksekusi tanpa proses pengadilan. Sementara bagi "para tertuduh komunis" yang tetap hidup, setelah selesai masa hukuman, baik di Pulau Buru atau di penjara, tetap diawasi dan dibatasi ruang geraknya dengan penamaan Eks Tapol.

Era pasca-Reformasi

Semenjak jatuhnya Presiden Soeharto, aktivitas kelompok-kelompok komunis, marxis, dan haluan kiri lainnya, mulai kembali aktif di lapangan politik Indonesia, walaupun secara hukum, belum boleh mendirikan partai karena masih dilarang oleh pemerintah.

Apakah Komunisme Telah Mati?

Banyak orang yang mengira komunisme 'mati' dengan bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991, yang diawali dengan keputusan Presiden Mikhail Gorbachev. Namun komunisme yang murni belum pernah terwujud dan tak akan terwujud selama revolusi lahir dalam bentuk sosialisme (Uni Soviet dan negara-negara komunis lainnya). Dan walaupun komunis sosialis hampir punah, partai komunis tetap ada di seluruh dunia dan tetap aktif memperjuangkan hak-hak buruh, pelajar dan anti-imperialisme. Komunisme secara politis dan ekonomi telah dilakukan dalam berbagai komunitas, seperti Kepulauan Solentiname di Nikaragua. Seperti yang digambarkan Anthony Giddens, komunisme dan sosialisme sebenarnya belum mati. Ia akan menjadi hantu yang ingin melenyapkan kapitalisme selamanya. Saat ini di banyak negara, komunisme berubah menjadi bentuk yang baru. Baik itu Kiri Baru ataupun komunisme khas seperti di Kuba dan Vietnam. Di negara-negara lain, komunisme masih ada di dalam masyarakat, namun kebanyakan dari mereka membentuk oposisi terhadap pemerintah yang berkuasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar